Minggu, 16 April 2017

Proses Pembuatan Keputusan


Banyak manajer yang harus membuat suatu keputusan dengan metode metode pembuatan informal, seperti tradisi pembuatan keputusan untuk masalah serupa yang pernah ada,  untuk memberikan pedoman bagi mereka. Atau para manajer juga dapat membuat keputusan berdasarkan nasehat dari seorang ahli atau manajer atasannya. Atau setidaknya para manejer dapat menggunakan pemikiran yang apriori, yaitu mereka membuat anggapan bahwa penyelesaian masalah yang paling logic dan jelas adalah yang paling benar.


Namun, tidak ada pendekatan pembuatan keputusan yang dapat menjamin bahwa manajer akan selalu membuat keputusan yang benar. Hanya saja, manajer yang menggunakan suatu pendekatan yang rasional, intelektual, dan sistematik akan lebih berhasil dibanding para manajer yang menggunakan pendekatan informal.


A.  Proses pembuatan keputusan (Making desicion process)
1.    Perumusan Masalah.
Manajer harus bisa menemukan apa masalah yang sebenarnya, kemudian menentukan bagian bagian masalah yang mereka harus pecahkan serta bagian bagian mana yang seharusnya dipecahkan. Untuk mempermudah identifikasi masalah dapat digunakan beberapa cara, yaitu manajer secara sistematik menguji hubungan hubungan sebab akibat, manajer harus mencari penyimpangan penyimpangan atau perubahan –perubahan dari 'normal', serta manajer dapat berkonsultasi dengan pihak pihak lain yang mampu memberikan pandangan dan wawasan yang berbeda tentang masalah atau kesempatan yang sedang dihadapi.

2.    Pengembangan Alternatif Alternatif.
Pengembangan sejumlah alternative memungkinkan manajer menolak kecenderungan untuk membuat keputusan terlalu cepat dan membuat lebih mungkin pencapaian keputusan yang efektif. Untuk hal ini, Herbert Simon mengemukakan konsep pemuasan (satisficing)  yaitu bahwa pembuat keputusan memilih suatu alternatif yang cukup baik, walaupun bukan suatu yang sempurna atau ideal.

3.    Evaluasi Alternatif Alternatif.
Setelah manajer mengembangkan sekumpulan alternatif, mereka harus mengevaluasinya untuk menilai efektivitas setiap alternatif. Efektivitas dapat diukur dengan dua kriteria, yaitu: apakah alternative realistik bila dihubungkan dengan tujuan dan sumber daya organisasi, dan seberapa baik alternative akan membantu pemecahan masalah.

4.    Pemilihan Alternatif Terbaik.
Pada tahap ini, manajer akan memilih hasil evaluasi dari berbagai alternatif. Alternatif terpilih akan didasarkan pada jumlah informasi yang tersedia bagi manajer dan ketidaksempurnaan kebijakan manajer.




5.    Implementasi Keputusan.
Setelah manajer memilih alternative terbaik, manajer harus membuat recana rencana untuk mengatasi berbagai persyaratan dan masalah yang mungkin dijumpai dalam penerapan keputusan. Implementasi keputusan menyangkut lebih dari sekedar pemberian perintah. Akan tetapi mencakup juga masalah penetapan anggaran atau skedul kegiatan, mengadakan dan mengalokasikan sumberdaya sumberdaya yang diperlukan, serta menugaskan tanggungjawab dan wewenang pelaksanaan tugas tugas tertentu. Dalam hal ini, manajer perlu memperhatikan dan mempertimbangkan berbagai resiko dan ketidakpastian sebagai konsekuensi dibuatnya suatu keputusan.

6.    Evaluasi Hasil hasil Keputusan.
Implementasi keputusan harus terus menerus dimonitor. Manajer harus mengevaluasi apakah implementasi dilakukan dengan lancer dan keputusan memberikan hasil hasil yang diinginkan. Pembuatan keputusan adalah suatu proses yang bersifat kontinyu bagi manajer dan merupakan tantangan yang harus selalu dihadapinya.

Tahapan tahapan pembuatan keputusan tersebut apabila dilaksanakan dengan baik oleh seorang manajer, niscaya akan diperoleh hasil keputusan yang tepat dan dapat dipertanggung-jawabkan.

B.  Contoh Kasus (Case Example)
KASUS I
Sebagai contoh kasus diumpamakan seorang manajer perusahaan kosmetik “A-plus” menerima laporan penjualan akhir tahun yang menunjukkan bahwa omzet perusahaan menurun secara drastis. Maka untuk menyikapi hal tersebut si manajer mencari sebab – sebab terjadinya penurunan omzet yang dialami perusahaan. Diketahui bahwa sebab menurunnya omzet adalah semakin banyaknya perusahaan pesaing di bidang yang sama, dan memberikan produk yang lebih baik kepada konsumen sehinggga para pelanggan perusahaan “A-plus” beralih kepada perusahaan pesaing. Hal ini disebut perumusan masalah.

Setelah sebab – sebab diketahui dan dijadikan rumusan masalah, si manajer mencari beberapa solusi untuk mengatasi penurunan omzet tersebut, diantaranya; 1) Meluncurkan produk baru. 2) Menyebarkan isu bahwa perusahaan pesaing menggunakan bahan kimia yang berbahaya. 3) Menutup perusahaan dan menjual seluruh saham pada perusahaan pesaing. Hal ini disebut pengembangan alternatif – alternatif.

Dari ketiga alternatif tersebut manajer membuat sebuah evaluasi dengan memepertimbangkan akibat – akibat yang terjadi bila memilih suatu alternatif yang ada, yakni sebagai berikut:
1.      Jika manajer memutuskan untuk meluncurkan produk baru maka hal ini akan membuat pengeluaran perusahaan meningkat dengan adanya penambahan biaya produk, biaya gaji, biaya mesin, biaya pemasaran dan biaya – biaya lainnya.
Namun disisi lain, dengan peluncuran produk ini dan kepercayaan dari konsumen peusahaan akan mendapatkan kembali pelanggan yang telah beralih.
2.      Jika menyebarkan isu bahwa perusahaan pesaing menggunakan bahan kimia yang berbahaya maka perusahaan akan memiliki image dari sebagian masyarakat bahwa perusahaan ini melakukan persaingan dengan cara yang tidak sehat.
Namun disisi lain, perusahaan akan mendapatkan kembali para pelanggannya.
3.      Jika perusahaan memilih untuk menutup perusahaan dan menjual seluruh saham pada perusahaan pesaing maka perusahaan akan mendapatkan uang yang banyak dari penjualan saham untuk menutupi semua kerugian akibat penurunan penjualan yang signifikan tersebut.
Namun perusahaan dinyatakan bangkrut.
Penjabaran – penjabaran tersebut dinamakan evaluasi alternatif – alternatif.

Dengan mempertimbanngkan beberapa alternatif dengan keuntungan dan resikonya maka manajer memilih untuk meluncurkan produk baru sebagai alternatif atas masalah penurunan omzet tersebut. Hal ini disebut pemilihan alternatif – alternatif.

Setelah alternatif dipilih maka manajer mulai mengintruksikan para pegawainya untuk membuat produk baru dan memasarkannya. Hal ini disebut implementasi keputusan.

Setelah produk diluncurkan dan dipasarkan manajer melakukan evaluasi setiap bulan untuk meninjau perkembangannya. Hal ini disebut evaluasi hasil keputusan.

KASUS II
Sebagai contoh kasus diumpamakan seorang manajer perusahaan katering mendapatkan laporan bahwa bahan makanan mengalami kenaikan harga dengan nominal yang signifikan, kenaikan harga ini diakibatkan oleh naiknya harga BBM yang berpengaruh pada ongkos pengiriman dan buruknya cuaca yang mengakibatkan menurunnya produktifitas para petani sayur sebagai supplier bahan pokok utama yang digunakan oleh perusahaan katering ini. Hal ini disebut perumusan masalah.

Setelah sebab – sebab diketahui dan dijadikan rumusan masalah, si manajer mencari beberapa solusi untuk mengatasi kenaikan harga bahan produksi tersebut, diantaranya; 1) Menghentikan dan menolak permintaan produksi untuk sementara. 2) Menaikkan harga jual produk katering dan mempertahankan kualitas dan kuantitas produk. 3) Mengurangi kualitas dan kuantitas produk katering namun tidak menaikkan harga jual. Hal ini disebut pengembangan alternatif – alternatif.

Dari ketiga alternatif tersebut manajer membuat sebuah evaluasi dengan memepertimbangkan akibat – akibat yang terjadi bila memilih suatu alternatif yang ada, yakni sebagai berikut:
4.    Jika manajer memutuskan untuk menghentikan dan menolak permintaan produksi untuk sementara maka hal ini akan membuat perusahaan tidak mengalami pembengkakan biaya.
Namun disisi lain, dengan menghentikan produksi berarti perusahaan akan kehilangan pelanggan.
5.    Jika menaikkan harga jual produk katering dan mempertahankan kualitas dan kuantitas produk maka beberapa pelanggan akan memilih beralih kepada produsen lain ynag menawarkan harga yang lebih murah.
Namun disisi lain, perusahaan akan tetap memiliki kepercayaan dari pelanggan yang loyal.
6.    Jika perusahaan mengurangi kualitas dan kuantitas produk katering namun tidak menaikkan harga jual maka perusahaan akan kehilangan kepercayaan pelanggan.
Namun perusahaan tidak mengalami kerugian yang diakibatkan kenaikan harga pokok bahan produk.
Penjabaran – penjabaran tersebut dinamakan evaluasi alternatif – alternatif.

Dengan mempertimbanngkan beberapa alternatif dengan keuntungan dan resikonya maka manajer memilih untuk menaikkan harga jual produk katering dan mempertahankan kualitas dan kuantitas produk sebagai alternatif atas masalah kenaikan harga tersebut. Hal ini disebut pemilihan alternatif – alternatif.

Setelah alternatif dipilih maka manajer mulai mengintruksikan pegawainya untuk menginformasikan kepada pelanggan bahwa harga produk katering dinaikkan sesuai dengan kondisi yang ada. Hal ini disebut implementasi keputusan.

Setelah menaikkan harga produk manajer melakukan evaluasi setiap bulan untuk memastikan apakah pelanggan tetap setia pada produk katering tersebut atau beralih ke produsen lain. Hal ini disebut evaluasi hasil keputusan.

Sumber:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar