Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Senin, 27 Mei 2019

BERHENTI

Aku memohon dengan sangat.
Kumohon dengan semua rintihan yang kupunya
Semua jeritan yang melengking bak serigala melolong ditengah malam
Berhentilah sejenak.
Kumohon.
Berhentilah sejenak.
Kumohon.
Berhentilah sejenak.
Lihatlah betapa kami t'lah kehilangan arah.
Porak poranda negeri oleh ulahmu.
Sementara kau duduk bertumpang kaki berbaju mentereng.
Hidangan semeja penuh.
Lalu keluar dan berkoar
Lagi.
Kemudian berteriak pada kami
Lagi.
Kumohon berhentilah.
Lihat betapa letih kami melawan diri sendiri.
Berhentilah. Kami sakit.
Berhentilah. Kami sekarat.
Berhentilah. Kami mati.
* * *

SERAKAH TAHTA

Duhai serakah tahta
Apa yang mampu kau berikan?
Inginmu berapa lagi korban?
Tak puaskah engkau melihat kami menangis darah
Terus memecah belah.
Hingga buta kami akan saudara.
Jika benar engkau pemimpin
Tak perlulah engkau mengambil nyawa untuk tumbal
Tak perlulah engkau nyaringkan genderang perang.
Satukan kami dalam teduh wahai penguasa.
Jika kau satu dengan kami
Dan benar kau satu dengan kami
Ribuan manusia melarat yang menangis dalam kemiskinan.
Dan meraung dalam kelaparan.
Jika kau benar satu dengan kami.
Mengapa kau tak rasakan luka kami?
Mengapa justru dengan tanganmu kau robek rajutan satu kami?
Iblis mana yang menguasai hatimu?
Bagaimana bisa kau tetap bernafas lega.
Sementara kami sesak kehabisan udara.
Bagaimana bisa kau tetap bernafas lega.
Sementara kami, satu per satu
Mati.
Apa yang mampu kah berikan?
Duhai serakah tahta.
* * *

EKA


Aku terperanjat melihat apa yang terjadi.
Kekacauan bak negeri dalam peperangan.
Siapa melawan siapa?
Setan mana yang merasuki?
Kupikir kita adalah Eka.
Lantas mengapa tangan memukul kaki
Mengapa kaki menendang kepala
Tubuh satu remuk melawan diri sendiri.
Bukankan kita adalah Eka?
Otak mana yang berpikir melukai diri?
Demi apa kutanya.
Demi siapa?
Toh kamu mati, tiada yang peduli.
Yang kamu bela tak menoleh.
Untuk apa? Demi siapa?
Agama mana yang kau bela?
Katakan Agama mana yang memerintahkan hambanya membakar diri.
Menghancurkan diri.
Meremukkan diri.
Siapa melawan siapa?
Yang kau bunuh tak lain adalah dirimu sendiri.
Karena kita adalah Eka.
Kita adalah Eka.
* * *

Kamis, 20 Juli 2017

JANJI




Bapak,  Aku berjanji akan membayar setiap tetes keringat yang kau keluarkan untuk mewujudkan apa yang kumau.
                Aku akan mengganti setiap helai rambut yang jatuh karena lelah memikirkanku.
                Aku akan mengembalikan setiap kerut keriput diwajahmu yang senantiasa menahan sakit karenaku.
                Aku akan sukses. Aku berjanji.
Ibu,        Bagaimanapun aku berusaha membalas kebaikanmu sebagai tanda terimakasihku, meskipun aku sadar aku tak akan sanggup.

Minggu, 04 Juni 2017

Cinta


Begitulah ketika cinta yang berbicara
Sangat indah bagai syair-syair puisi Kahlil Gibran
Tak banyak yang memahami maknanya
Tapi terdengar begitu syahdu

Debu


Dia berjalan dibawah terik yang membakar
Sepatu lusuh yang dipakainya merintih
Tak mau lagi dibawa melangkah diatas bebatuan tajam

Jumat, 26 Mei 2017

Fulan di pengasingan



“Bertahan ku tak mampu
Berlari ku tak bisa”
Darimana terbit mentari?
Dia tersenyum tak mengerti

Selasa, 18 April 2017

Mesin Waktu




Melihat ke timur dan menangkap cahaya-cahaya jingga
Lagu yang dilantunkan burung-burung terbang menerobos embun diatasnya
Tak lebih indah dari puisi chairil anwar memang.
Tapi sejuknya embun membawanya ke masa lalu.

Sabtu, 28 Januari 2017

PUISI ISLAM : kasih tuhan

beberapa waktu lalu saya diberi tugas untuk mencari materi puisi tentang ketuhanan untuk anak - anak. karena beberapa minggu lagi akan diadakan lomba madin se-kabupaten dengan tingkat sekolah dasar. setelah searching beberapa hari, hasilnya nihil. yang saya temukan hanya puisi - puisi dewasa yang saya fikir terlalu berat untuk dibawakan anak berumur 12 tahun. akhirnya saya dengan "terpaksa" membuat sendiri puisi itu.

jadi, semoga puisi ini berguna untuk kita semua...






Senin, 14 November 2016

GUNUNG TAK LAGI GAGAH -_-



Katanya gunung itu gagah.
Lihat sekarang dia hancur bahkan rata dengan tanah
Dia yang gagah, luluh lantah oleh besi murahan
Kenapa Ia tak melawan?